Saat berkunjung ke History of Java Museum kita akan menemukan berbagai pengalaman yang berkesan. Apalagi bilamana kamu bersungguh-sungguh pingin mengenali koleksi bersejarah di Museum ini. Sudah pasti bakal didapat banyak banget hal menarik untuk dipahami. Mulai dari berbagai kisah peradaban masa lampau yang menakjubkan. Bahkan ragam inspirasi leluhur kita semasa era Jawa kuno. Itulah mengapa keberadaan Museum berteknologi modern di Kabupaten Bantul ini sering mengundang rasa penasaran. Lokasinya pun sangat ikonik dengan bentuk “Piramida Jawa” di halaman Rest Area Pyramid, Jalan Parangtritis KM, 5,5, Sewon, Bantul.

Sebentuk ikon segitiga Piramid yang berciri filosofi “Gunungan Wayang” itulah salah satu simbolisasi Museum History of Java. Terutama sejak 2018 silam yang hingga kini masih jadi keunikan tersendiri bagi masyarakat. Khususnya bagi pengunjung dari luar kota Yogyakarta.

Jika Sobat Museum pingin tahu cerita kehidupan apa saja yang dapat disampaikan oleh Museum History of Java, kita ikutin dulu ragam ulasan singkatnya, seperti berikut ini.

1. Piramida / Simbol Gunungan Wayang

Sobat Museum, segitiga Piramid Jawa sebenarnya jauh lebih bermakna dibanding kepunyaan Mesir, kenapa? Nah, seperti yang berada di halaman Museum History of Java. Jika dimaknai secara budaya maka bagi Museum bentuk tersebut adalah simbol dari sebuah “Gunungan Wayang” yang sangat bersejarah.

Seorang profesor asal Universitas Oxford, Inggris, Stephen Oppenheimer, pernah mengungkapkan jika symbol Gunungan sudah dikenal  sejak ribuan tahun silam. Tepatnya sedari abad pertama kehidupan manusia di Nusantara.

Semenjak dahulu itulah, Segitiga Gunungan di Jawa membawa lambang kesuburan alam semesta, dan bagaimana keseimbangan siklus kehidupan antara manusia dengan makhluk hidup lain. Filosofinya kerap disimbolkan oleh tiga bentuk, yaitu Pohon, Burung, dan Ular.

Sementara di dalam Kebudayaan Jawa, filosofi tersebut dijadikan perangkat Gunungan Wayang untuk pementasan Wayang kulit. Oleh karena itulah, Museum History of Java merasa sejalan dengan konsep budaya dari Gunungan Wayang, diantaranya sebagai simbol pengetahuan semesta Nusantara, namun terutama pada Tanah Jawa.

2. Lakon Semar dan Togog

Sosok tokoh Semar dalam pewayangan Jawa menjadi lambang kebijaksanaan. serta penasehat raja-raja yang berwatak baik. Sebaliknya Togog adalah gambaran dari keburukan sifat manusia. Togog adalah penasehat raja-raja yang bersifat buruk atau jahat.

Di lorong koleksi Museum History of Java, terdapat patung Semar dan Togog, sekalian sebagai tanda hitam dan putih sifat manusia. Selain itu terdapat kisah mitologi lain. Dimana Semar dan Togog adalah pembawa agama Kapitayan ke Nusantara. Terlebih lagi saat awal kehidupan manusia di Pulau Jawa.

3. Sumbu Filosofi Yogyakarta

Sumbu ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk menata Kota Yogyakarta beserta Keraton setelah tahun 1755. Disebut dengan Sangkan Paraning Dumadi yang artinya perjalanan hidup manusia dimulai dari Kelahiran, Pendewasaan Diri, hingga kelak bersiap menghadap Sang Pencipta. Itulah mengapa Yogyakarta dibentuk melalui poros garis lurus yang jadi penghubung antara (Laut Selatan) – Panggung Krapyak – Keraton Yogyakarta – Tugu Golong Gilig – (Gunung Merapi).

Saat memasuki ruang Paviliun Keraton di Museum History of Java terdapat keterangan lengkap mengenai filosofi Kota Jogja ini. Jika kurang paham bisa bertanya pada Guide Museum yang mendampingi selama tour museum berlangsung.

4. Permainan Ular Tangga Berpetuah Jawa

Permainan ular tangga raksasa di Aula Museum History of Java memuat banyak petuah Jawa yang sangat bijaksana : 

Gusti Iku Cedhak Tanpa Senggolan, Adoh Tanpa Wangenan” ARTINYA “Tuhan itu dekat meski tubuh kita tidak dapat menyentuhnya, dan akal kita tidak dapat menjangkaunya.”

Berkeliling Museum History of Java

Saat berkunjung ke Museum History of Java kamu akan mendapat banyak ruangan yang nyaman. Dimulai dari Ruang Teater yang memutarkan film pendek tentang sejarah peradaban Jawa semasa era purbakala. Setelahnya pengunjung memasuki Ruang Koleksi (5 lorong koleksi dan Paviliun Keraton). 

Nah, pada ruang koleksi ini, terdapat teknologi Augmented Reality dan QR Video Movie yang didownload melalui Google Play Store. Search “History of Java AR” kemudian download aplikasinya. Setelah itu arahkan layar ponsel pada sejumlah barcode yang tertempel pada keterangan gambar-gambar sejarah di sepanjang ruang koleksi Museum History of Java. 

“Setelah menjelajah dunia koleksi Museum, pengunjung ditemani Guide menuju Ruang 3D Animasi, hingga kunjungan berakhir di Ruang Diorama, dan dipersilahkan berfoto memakai properti budaya Jawa, serta background foto berlayar 3D”

Sampai disini, pengunjung akan diajak berjalan menuju pintu keluar atau Exit Door Museum, yaitu sepanjang pedestrian “Little Maliboro”. Sobat Museum sekian kunjungan dulu waktu kunjungan di Museum History of Java. Semoga menginspirasi…!

GALLERY FOTO MUSEUM HISTORY OF JAVA 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here